Market Update

SMF Highlight

Early Warning System

Makroekonomi

Market Comment

 SMF HIGHLIGHT

Perkembangan Kredit Properti di Indonesia

Pada tahun 2015 sektor properti mengalami perlambatan disebabkan oleh pengetatan KPR oleh BI, suku bunga yang tinggi dan peraturan LTV yang memberatkan. Disamping itu, didorong oleh tingkat inflasi yang tinggi serta depresiasi nilai tukar yang cukup dalam. Meskipun demikian, memasuki akhir tahun 2016 pertumbuhan kredit properti mulai memperlihatkan perbaikan seiring terbitnya  relaksasi LTV oleh BI serta POJK yang menyentuh sektor supply pada Juni dan Agustus 2018. Adanya kedua kebijakan tersebut berhasil mendorong pasar pembiayaan properti kembali kondusif, ditandai dengan meningkatnya pertumbuhan total kredit properti ke level 16,77% (yoy), Pertumbuhan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) dan kredit konstruksi berhasil menembus level 27,30% (yoy) dan 22,93% (yoy).

Selengkapnya

KPR Syariah Tumbuh Di Atas KPR Nasional

KPR syariah bulan Februari mencapai Rp320,98 triliun dengan nilai outstanding KPR syariah sebesar Rp72,30 triliun atau tumbuh 18,28% (yoy). Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan KPR nasional sebesar 13,71% (yoy) pada bulan yang sama. Unit Usaha Syariah (UUS) mendominasi KPR syariah dengan share mencapai 53%, sedangkan share KPR Bank Umum Syariah (BUS) sebesar 47%.

Selengkapnya

Awal Tahun 2019, Kredit Pemilikan Rumah Nasional Relatif Stagnan

Pada bulan Januari 2019, outstanding KPR nasional tercatat sebesar Rp445,20 triliun, meningkat 0,002% (mom) dibandingkan Desember 2018 sebesar Rp445,19 triliun. Pertumbuhan tahunan periode tersebut sebesar 13,03% (yoy). Berdasarkan bank penyalur KPR, pada bulan Januari 2019 share KPR tertinggi terdapat pada Bank Pemerintah sebesar 60,67%, diikuti bank swasta nasional sebesar 34,30% dan sisanya oleh bank BPD serta bank swasta asing dan campuran sebesar 5,03%. Sedangkan pertumbuhan KPR berdasarkan jenis bank, Bank Pemerintah masih mengalami pertumbuhan tertinggi mencapai 16,90% (yoy), diikuti bank swasta nasional sebesar 9,10% (yoy). sementara itu, Bank asing dan campuran serta BPD masing-masing mengalami perlambatan sebesar -8,70% (yoy) dan -1,30% (yoy).

Selengkapnya
Akhir Tahun 2018, Rasio NPL KPR Seluruh Tipe Rumah Kompak Menurun

Akhir tahun 2018 KPR Indonesia tumbuh moderat ditandai dengan pertumbuhan KPR mencapai 13,31% (yoy) dengan total outstanding KPR per 31 Desember 2018 sebesar Rp445,20 trilliun. Dilihat berdasarkan porsi pembentukannya, tipe rumah menengah (22-70 m2) masih memberikan porsi tertinggi mencapai 61,67% terhadap outstanding KPR, sedangkan sisanya oleh rumah tipe besar (>70 m2) dan kecil (≤21 m2) masing-masing sebesar 32,19% dan 6,14%. Jika dilihat berdasarkan rasio NPL (Non Perfoming Loan) KPR tertinggi terjadi pada rumah tipe besar (>70 m2) mencapai 3,00%, selanjutnya rasio NPL KPR untuk tipe rumah kecil (≤21 m2) sebesar 2,1% dan NPL KPR terendah adalah tipe rumah menengah (22-70 m2) sebesar 1,97%. NPL KPR seluruh tipe rumah menunjukkan tren penurunan.

Selengkapnya
Pertumbuhan Kredit Rumah Tangga di Indonesia

Kredit perbankan mengalami kenaikan semenjak Januari 2018. Berdasarkan jenis kreditnya, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tumbuh cukup moderat hingga mencapai 13,2% (yoy). Sedangkan pertumbuhan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) dan Kredit Multiguna (KMG) masing-masing sebesar 13,4% (yoy) dan 13,6% (yoy). Disamping itu, Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) tumbuh sebesar 32,1% (yoy). Diantara keempat jenis kredit tersebut, KPR memiliki rasio NPL tertinggi mencapai 2,65%. Rasio NPL tertinggi terdapat di Provinsi Papua Barat sebesar 10,3%. Meskipun demikian, pertumbuhan KPR di Papua Barat cukup tinggi mencapai 23,1%.

Selengkapnya

Perkembangan KPR dan Real Estate di Indonesia

Peraturan mengenai LTV di Indonesia telah berubah 6 kali sejak Juni 2012 hingga peraturan yang terbaru yang dirilis pada Juni 2018. Pada tahun 2012-2013 pertumbuhan KPR sempat mencapai 40% (yoy), kemudian menurun setelah Bank Indonesia (BI) memperketat kebijakan LTV KPR di tahun 2012-2013 demi mencegah spekulasi harga rumah. Meskipun Bank Indonesia sudah melakukan relaksasi di sektor perumahan sejak Juni 2015, namun dampaknya belum terlihat karena fokus relaksasi masih dari sisi permintaannya. Dengan adanya relaksasi LTV lanjutan Bank Indonesia (BI) bulan Juni 2018 dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bulan Agustus 2018 yang juga menyentuh sisi penawaran, maka diharapkan pertumbuhan ekonomi sektor real estate akan terus meningkat.

Selengkapnya