Market Update

SMF Highlight

Building Permit Index

Early Warning System

Makroekonomi

Market Comment

MONTHLY MARKET UPDATE

Desember 2018

Nilai tukar rupiah Indonesia terhadap US Dollar sempat mencapai Rp13.156/USD pada awal Oktober 2017 dan kembali terkoreksi dipicu Pers Presiden Trump serta sikap hawkish The Fed. Pada awal Februari 2018 kurs rupiah menguat ke level Rp13.289/USD, tetapi pada awal bulan Maret 2018 nilai tukar kembali terkoreksi. Memasuki pertengahan Oktober 2018, nilai tukar rupiah berangsur menguat seiring adanya negosiasi perdagangan antara Presiden Trump dan Presiden Xin Jingping. Penguatan nilai tukar rupiah terus berlanjut hingga awal Desember 2018 seiring melemahnya harga minyak dunia serta penundaan pengenaan tarif lanjutan terhadap barang-barang impor asal China.

Selengkapnya

November 2018

Menguatnya yield US-Treasury 10 tahun mengakibatkan spread US-Treasury dan SUN 10 tahun semakin melebar di tahun 2018. Hal ini ditandai dengan menguatnya yield US-Treasury 10 tahun ke level 3,24% atau tertinggi semenjak dua tahun terakhir. Menguatnya yield US-Treasury 10 tahun mengakibatkan spread US-Treasury dan SUN 10 tahun semakin melebar di tahun 2018. Meskipun demikian, tekanan pada pasar obligasi negara berkembang pada tahun 2019 tidak sebesar di tahun 2018 karena normalisasi kebijakan AS diprediksi lebih dovish pada tahun 2019.

Selengkapnya

Oktober 2018

Rilisnya suku bunga acuan The Fed bulan Maret 2018 sebesar 1,75%-1,50% atau naik 25bps lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Setelah tiga bulan, The Fed kembali menaikkan Federal Fund Rate (FFR) ke level 1,75%-2,00% atau naik 25bps lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya di level 1,50%-1,75%. Hal ini menyebabkan net sell asing di pasar domestik, sekaligus memicu kenaikan kembali 7-days reverse repo mencapai 50bps ke level 5,25% pada Juni 2018. Memasuki triwulan III, Bank Indonesia kembali menaikkan 7-days reverse repo sebanyak 2 kali pada bulan Agustus dan September masing-masing sebesar 25bps ke level 5,75%, sejalan dengan meningkatnya Federal Fund Rate (FFR) sebesar 25bps ke level 2,00%-2,25%. Dengan demikian, sampai dengan triwulan III 2018 telah terjadi kenaikan suku bunga acuan 7-days reverse repo mencapai 150bps atau tertinggi semenjak dua tahun terakhir.

Selengkapnya

September 2018

Pelemahan pasar obligasi domestik didorong oleh faktor global yakni mulai dari krisis ekonomi Turki dan Argentina hingga tensi perang dagang yang masih memanas antara Amerika Serikat dan China. Hal ini menyebabkan yield US-Treasury 10 tahun menyentuh level tertingginya semenjak Juli 2011, yakni di level 3,08%. Sejalan dengan meningkatnya US-Treasury, yield SUN tenor 10 tahun juga turut menyentuh level terendahnya semenjak awal tahun 2018 yakni di level 8,71%.

Selengkapnya
Agustus 2018

Outstanding obligasi korporasi Indonesia dibandingkan dengan PDB nasional pada triwulan I tahun 2018 masih relatif rendah, yakni hanya berkisar 2,9%. Sedangkan rasio outstanding obligasi korporasi terhadap PDB terbesar yakni negara Korea, Malaysia, dan Singapore dengan masing-masing sebesar 72,9%, 46,3% dan 32,4%. Sedangkan jika dilihat dari rasio porsi obligasi korporasi terhadap Local Currency Bond Markets (LCB) pada triwulan I tahun 2018, Indonesia menempati posisi tiga terbawah sebesar 15,4% setelah Jepang dan Vietnam masing-masing sebesar 6,7% dan 5,5%.

Selengkapnya
Juli 2018

Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan 7-days reverse repo sebesar 50bps dari 4,75% menjadi 5,25% pada Juni 2018. Dengan demikian, sampai dengan triwulan II 2018 telah terjadi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia hingga 100bps.

Selengkapnya


Notice: Undefined variable: string2 in /home/k3236716/public_html/wp-content/themes/salient/page-view-all-market-update.php on line 152