Market Update

SMF Highlight

Early Warning System

Makroekonomi

Market Comment

 PROSPEK EKONOMI

Outlook Federal Funds Rate (FFR) Diproyeksikan Menurun Pada Semester II 2019

Pada FOMC bulan Mei 2019 The Fed kembali bersabar terhadap kebijakan moneternya, meskipun demikian sebesar 72,9% pasar merespon bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga acuannya ke level 2,00%-2,25% pada akhir tahun 2019. Penurunan tersebut didorong oleh bisnis investasi AS yang melemah ditengah keterbatasan stimulus fiskal Amerika Serikat sekaligus semakin meningkatnya ketidakpastian mengenai prospek ekonomi global. Diproyeksikan pada triwulan I tahun 2020 Federal Funds Rate (FFR) berada di level 1,25%-1,50%, sejalan dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

Selengkapnya
Perang Dagang Memanas, Rupiah Kembali Melemah

Nilai tukar rupiah bergerak terbatas selama bulan April, ditandai dengan terdepresiasinya nilai tukar Rupiah sebesar 0,10% (mom) ke level Rp14.257/USD pada akhir bulan April 2019. Kembali melemahnya nilai tukar tersebut seiring dengan meningkatnya tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa yang berimbas terhadap tarif impor baru oleh Amerika Serikat kepada produk impor asal Uni Eropa mencapai USD11 miliar. Selanjutnya, perang dagang antara Amerika dan China juga turut menyumbang depresiasi nilai tukar. Sejauh ini, pemerintah Amerika Serikat telah mengenakan bea masuk baru terhadap produk China mencapai USD250 miliar.

Selengkapnya

Potret Neraca Perdagangan Indonesia Triwulan I 2019

Pada triwulan I tahun 2019 neraca perdagangan kembali membaik. Membaiknya neraca perdagangan seiring membaiknya beberapa harga komoditas migas dan non-migas, meskipun demikian pada triwulan I tahun 2019 mencatatkan defisit neraca perdagangan mencapai USD193,4 juta. Angka tersebut memburuk dibandingkan triwulan I tahun 2018 yang mampu surplus mencapai USD314,4 juta.

Selengkapnya
Akhir Februari, Cadangan Devisa Indonesia Kembali Merangkak Naik

Cadangan devisa Indonesia sepanjang tahun 2018 terkoreksi cukup dalam higga ke level USD114,85 miliar pada September 2018. Terkoreksinya cadangan devisa tersebut seiring intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing demi menstabilkan nilai tukar rupiah. Meskipun demikian, pada akhir Februari 2019 cadangan devisa kembali rebound mencapai USD123,27 miliar seiring penerbitan sukuk global pemerintah dan penerimaan devisa non-migas mencapai USD793,6 juta. Kedepan posisi cadangan devisa diprediksi kembali stabil seiring menguatnya keyakinan investor terhadap prospek perekonomian domestik.

Selengkapnya

Akhir Tahun 2018 Terjadi Hattrick Defisit Neraca Perdagangan

Pada akhir tahun 2018, neraca perdagangan Indonesia defisit mencapai USD1.102 juta, sekaligus mencatatkan hattrick defist sebesar USD4.871,4 juta (akumulasi Oktober-Desember 2018). Secara year to date (ytd) kinerja neraca perdagangan Indonesia defisit mencapai USD8,6 miliar atau terburuk semenjak tahun 2013. Buruknya kinerja perdagangan didorong pelebaran defisit sektor migas sekaligus penurunan surplus ekspor non-migas. Disamping itu, sepanjang tahun 2018 pertumbuhan impor non-migas meningkat cukup signifikan mencapai 19,8% seiring terdepresiasinya nilai tukar rupiah.

Selengkapnya
Proyeksi Pergerakan Fed Funds Rate (FFR) dan 7-Days Repo Rate

Menjelang akhir tahun 2018, The Fed telah menaikkan suku bunga acuannya (FFR) mencapai 100bps ke level 2,25%-2,50%. Di tahun mendatang, The Fed diprediksi akan menaikkan 3 kali lagi suku bunga acuannya (FFR) mencapai level 3,00%-3,25% pada triwulan II dan III di tahun 2019 dan akan meningkat 3 kali lagi mencapai level 3,75%-4,00% pada tahun 2020. Dari dalam negeri, Bank Indonesia telah menahan suku bunga acuannya pada rapat akhir tahun 2019. Di tahun mendatang, Bank Indonesia diproyeksikan akan kembali menaikkan suku bunga acuannya (7DRR) mencapai 50bps ke level 6,50%.

Selengkapnya