Market Update

SMF Highlight

Building Permit Index

Early Warning System

Makroekonomi

Market Comment

Suku Bunga BI Turun, Penyaluran Kredit Perbankan Masih Lemah

By October 20, 2017Market Comment

    Pada akhir September 2017, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan nilai suku bunga acuan (7-Day Reverse Repo Rate) dari 4,5% menjadi 4,25%. Hal tersebut dapat terlaksana karena rendahnya prakiraan inflasi. Bahkan satu bulan sebelum keputusan tersebut, suku bunga BI juga sudah turun dari 4,75% menjadi 4,5%.

    Penurunan Suku Bunga Belum Pengaruhi Penyaluran Kredit

    Mantan Menteri Keuangan sekaligus pengamat ekonomi, Chatib Basri, menyatakan bahwa penyaluran kredit untuk kalangan pebisnis masih sepi. Terhitung hingga Juni 2017, laju pertumbuhan penyaluran kredit hanya berkisar di angka 7,8%. Jumlah tersebut jelas jauh lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang mencapai 8,9%.

    “Kira-kira mengapa saya harus pinjam ke bank kalau saya tidak butuh ekspansi?

    Lalu mengapa saya tidak butuh ekspansi? Karena permintaannya tidak ada,” ujar Chatib.

    Hal tersebut menunjukkan bahwa penyaluran kredit perbankan yang masih lemah disebabkan oleh daya beli masyarakat yang menurun. Bila daya beli tersebut tak sesuai dengan harapan, tentu saja pebisnis tak akan melakukan ekspansi usaha. Karena bukan hanya membutuhkan dana, ekspansi usaha juga akan menyebabkan pertambahan fixed cost.

    Cara Efektif untuk Memaksimalkan Penyaluran Kredit

    Menurut Chatib, salah satu upaya yang harus dilakukan untuk memaksimalkan penyaluran kredit adalah memperhatikan daya beli masyarakat menengah ke bawah. Masyarakat kalangan ekonomi tersebut pada umumnya memiliki daya beli rendah dan tidak mempunyai tabungan.

    Bila taraf hidup masyarakat menengah ke bawah meningkat, maka otomatis daya belinya pun akan ikut meningkat. Hal ini akan turut meningkatkan permintaan akan produk dan jasa. Para pebisnis pun akan mengandalkan kredit perbankan untuk memulai ekspansi bisnis.

    Masyarakat menengah ke bawah membutuhkan pendampingan intensif dalam hal pengelolaan keuangan. Misalnya melalui realisasi Program Keluarga Harapan (PKH). Pendampingan itu diharapkan menjadi langkah konkret dalam memberikan edukasi keuangan secara maksimal. Supaya masyarakat menengah ke bawah lebih cermat mengatur keuangan dan daya belinya pun turut mempengaruhi pergerakan kredit perbankan ke arah positif.

    Namun, dampak penurunan suku bunga bagi masyarakat menengah ke atas pun harus dicermati dengan jeli. Jangan sampai penurunan tersebut membuat masyarakat enggan menyimpan uang di bank. Karena hal tersebut tentu membuat sumber uang yang akan dialokasikan untuk kredit perbankan turut terganggu.

     

     

    Sumber: republika.co.id, beritagar.id