Market Update

SMF Highlight

Building Permit Index

Early Warning System

Makroekonomi

Market Comment

Pekerja Informal Masih Kesulitan Mendapatkan Rumah Subsidi

By October 18, 2017Market Comment, Uncategorized

    Pada pertengahan Mei 2017, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) merilis data tentang jumlah pekerja informal yang mendapatkan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) rumah subsidi. Hasilnya, ternyata baru 2,5% pekerja informal di Indonesia yang bisa menikmati fasilitas tersebut.

    Dirjen Pembiayaan Perumahan Kementerian PUPR, Lana Winayanti, menjelaskan bahwa persentase tersebut diperoleh dari pembinaan sektor perbankan syariah. Pekerja informal yang sudah terbiasa membayar angsuran kredit selama satu hingga dua tahun akan mendapatkan tawaran FLPP rumah subsidi.

    Dua Hambatan Utama Bagi Kalangan Pekerja Informal

    Menurut Lana, dua hambatan utama yang menyebabkan kalangan pekerja informal belum memperoleh FLPP adalah penghasilan tidak tetap dan kurangnya kebiasaan menabung. Para pekerja informal cenderung merasa keberatan bila harus menyetorkan angsuran ke bank setiap bulan. Kendati demikian, membayar angsuran dengan sistem harian justru lebih diminati.

    Oleh karena itu, kesuksesan FLPP membutuhkan dukungan dari pemerintah daerah untuk aktif berhubungan dengan pekerja informal. Pemerintah daerah diharapkan menjadi perantara bagi pekerja informal seperti nelayan, petani, atau pemilik warung. Karena pekerja informal tersebut membutuhkan dukungan lembaga terpercaya untuk menabung dengan sistem harian dan membantu menyetorkannya ke bank.

    Sistem keberadaan lembaga penjamin tersebut sudah diberlakukan di Palembang sesuai dengan regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Langkah positif ini diharapkan dapat berkembang di sejumlah daerah lain di tanah air. Supaya FLPP rumah subsidi dapat mencapai target yang tepat. Data pembiayaan KPR oleh pemerintah menyatakan bahwa total realisasi FLPP sejak tahun 2010 sudah mencapai 500.000 unit rumah. Jumlah ini tentu diharapkan terus bertambah sesuai dengan rencana pemerintah.

    Harga Rumah Terus Naik, KPR Tak Boleh Ditunda

    Ketua Umum Asosiasi Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI), Eddy Ganefo, menyatakan bahwa harga rumah subsidi pada tahun 2017 mulai mengalami kenaikan. Rata-rata jumlah kenaikan tersebut berkisar di angka 6,5 hingga 10 juta rupiah per unit.

    Kenaikan harga rumah subsidi terjadi secara merata di berbagai daerah di tanah air. Berbagai faktor seperti inflasi dan kenaikan harga material bangunan turut mempercepat kenaikan harga rumah subsidi.

    Jika pekerja informal dan kalangan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) lainnya tidak segera mengajukan KPR rumah subsidi, harga rumah yang terus meningkat tentu akan sangat menyulitkan. Karena jumlah uang muka atau Down Payment (DP) dan angsuran KPR rumah subsidi pun akan ikut meningkat.

     

     

    Sumber: cnnindonesia.com, bisnis.liputan6.com, inapex.co.id